Cari Blog Ini


Senin, 09 Mei 2011

CERITA RAKYAT LOMBOK DAN NUSANTARA

CERITA PUTRI NYALE

Dahulu kala ada seorang raja di Pulau Lombok bagian Selatan mempunyai seorang putri. Putri ini sangat cantik jelita. Sehingga, banyak pangeran yang jatuh hati kepadanya. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan putri tersebut, san putri merasa kebingungan untuk memilih diantara pangeran itu. Hampir setiap hari terjadi perkelahian diantara pangeran-pangeran itu. Rajapun menjadi elisah, sebab jika memilih salah satu dari mereka pasti akan terjadi pertentangan dengan yang lainnya. Semuanya sangat menginginkan putri tersebut sebagai istrinya. Semuanya adalah putra raja yang sangat berpengaruh di Pulau Lombok yang mempunyai banyak rakyat dan punggawa kerajaan. Jika salah satu terpilih, maka akan terjadi pertumpahan darah dan rakyat akan menjadi menderita.
Untuk menghindari pertumpahan darah, aka putri meminta kepada ayahnya untuk diadakan suatu acara besar di dekat pantai Seger (sebuah pantai di Wilayah Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah).
Dalam acara itu, akan diundang semua pangeran yang jatuh cinta kepadanya. Mereka disuruh berpakaian adat dengan membawa pengiringnya masing-masing. Di pantai Seger, sang putri dibuatkan sebuah panggung tingg, agar mudah dilihat oleh seluruh rakyatnya dan pangeran yang melamarnya. Setelah tiba waktu yang ditentukan oleh putri Nyale, yaitu pada tanggal 20 bulan 10, rakyat dan para pangeran yang melamar putri semuanya datang ditempat itu.
Tuan putri naik diatas panggung dan berkata “wahai rakyatku semua dan pangeran-pangeran yang saya sayangi, untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah di bumi Lombok Selatan ii, aku sebaiknya menceburkan diri kedalam laut dan kelak setiap tanggal 20 bulan 10 engkau mencariku ditempat ini”.
Setelah berkata demikian, putri Nyale lalu menceburkan diri ke laut. Rakyatnya sangat bersedih, begitu pula pangeran-pangeran yang ingin mempersuntingnya.
Demikian kisah singkat putri Nyale, sehingga kita setiap tanggal 20 bulan 10 pergi ke pantai laut selatan mencari Nyale untuk dijadikan sayur yang sangat enak yang mempunyai protein cukup tinggi.


CUPAK DAN GERANTANG

Lontar Cupak Gerantang yang ditulis dalam bentuk sekarang dengan pengatar bahasa Sasak ini membuka tuturannya dengan menceritakan penculikan terhadap putri Daha oleh raksasa Limandaru. Limandaru yang berarti raksasa bermuka gajah dengan sorotan mata bagai api adalah raksasa yang sangat sakti dan sudah lama mengidam-idamkan putri Daha untuk dijadikan anaknya. Hasrat si Limandaru pun terwujud. Putri Daha yang berhasil diculiknya disembunyikan didalam Goa.
Prajurit Daha kemudian dikerahkan untuk merebut kembali putri yang diculik itu. Prajurit kerajaan di bawah pimpinan Raden Panji (kekasih sang putri) jugs ikut dikerahkan, akan tetapi semuanya menemui kegagalan. Sang Putri tetap ditangan Limandaru. Bahkan Raden Panji sendiri nyaris menemui ajalnya. Rasa malu dan kecewa karena kegagalan ini membuat Raden Panji memutuskan untuk pergi berkelana mencari kesaktian.
Tersebutlah seorang abdi kerajaan Daha yang lolos dari cengkraman maut bernama si Bosok. la bersedia mengikuti pengembaraan Raden Panji, asalkan diakui sebagai saudaranya. Kedua insan itu pun pergi bertafa ke gua Galagala. Berkat kekuasaan Tuhan, keduanya menjelma kembali menjadi anak kecil. Si Bosok yang dimandikan di Pekuburan Keramat diberi nama Raden Cupak. Rupa wajah Raden Cupak sangat serem dengan kepala botak dan perut gendut. Sedangkan Raden Panji yang disucikan di sebuah mats air diberi nama Raden Gurantang yang wujud fisiknya sangat balk, ampan, Berta dengan perangai halus dan budi pekerti luhur.
Selanjutnya diceritakan Cupak dan Gurantang melakukan pengembaraan. Pada suatu saat mereka bertemu dengan Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol. Mereka mengangkat Raden Cupoak dan Raden Gurantang sebagai anak.
Pada lanjutan kisah, Selama menjadi anak angkat Inaq Bangkol, terlihat perbedaan perangai kedua tokoh ini. Raden Cupak yang bertampang buruk mewakili sifat-sifat yang buruk. Hatinya busuk, tidak jujur, pemalas, serakah, dan perbuatan culas lainnya. Sedangkan Gurantang dengan tampang yang bagus mewakili sifat-sifat yang bagus pula seperti jujur, tutus ikhlas, rela berkorban, rajin, rendah hati, dan sejenisnya. Meskipun is memiliki kesaktian yang tinggi, tetapi tidak sombong.
Cerita dilanjutkan dengan pengembaran Cupak clan Gurantang. Setelah Raden Cupoak bertingkah laku tidak balk, terhadap Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol, Raden Gurantang merasa malu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan Mengembara tanpa tujuan keluar hutan masuk hutan.
Pada bagian tengah cerita mengisahkan tentang adanya sayembara dalam rangka merebut kembali putrid Daha dari tangan raksasa Llimandaru. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Raden Gurantang alias Raden Panji. la memang sudah lama bertekad merebut kembali kekasihnya dari tangan Limandaru. Tetapi rupanya kehadiran Cupak sebagai saudara Gurantang bukan membantu, bahkan merupakan duri dalam daging. Ketika usaha Gurantang menyelamatkan Tuan Putri hamper berhasil, Cupak yang ternyata menaruh hati kepada Tuan Putri tak Began mencelakakan Gurantang dengan jalan menjatuhkannya kedalam dasar Gua. Daalam situasi seperti ini, peran Amaq dan Inaq Bangkol kembali dihadirkan untuk menyelamatkan sang Panji (Raden Gurantang).
Pada akhir cerita dituturkan bahwa kebenaran clan kejujuranlah yang akhirnya memperoleh kemenangan walau terlebih dahulu mesti diuji dengan kekalahan, kesengsaraan, clan penderitaan. Di ujung cerita dikisahkan Cupak mengadu kepada Raja bahwa dialah yang membunuh raksasa itu. Untuk menguji kebenaran ceritanya, Cupak disuruh beradu perise melawan Gurantang. Akhirnya Cupak dapat dikalahkan dan Tuan Putri dikawinkan dengan Gurantang ( Raden Panji).

DATU PANJI ANOM
Dahulu kala di daerah Lombok Timur ada seorang raja bernama Raden Panji Anom. Dia memerintah di sebuah kerajaan kecil yang subur makmur. Rakyat hidup tenteram dengan hasil pertanian yang melimpah rush. Raden Panji Anom memimpin rakyatnya dengan bijaksana dan adil. la sangat disayangi oleh semua rakyat.
Raden Panji Anom mempunyai sembilan orang istri. Akan tetapi tidak merasakan kebahagiaan, beliau sangat sedih, karena selama ia kawin dengan kesembilan orang istrinya tak satu pun yang dapat memberikan ia keturunan. la belum mempunyai anak walau seorang pun. Berbagai usaha telah dilakukan agar ia mempunyai anak. la telah mencari dukun Sakti, pergi betapa ke goa-goa, berdoa siang dan malam, dan melakukan pengobatan dengan berbagai cars, namun usahanya tetap berhasil. la hampir putus asa.
Pada suatu malam ketika sedang merenung sendiri, tiba datang seorang kakek tua bernama Kakek Betal J, dan berkata " Wahai putraku Raden Panji Anom. Kamu akan pernah mempunyai anak dengan mencari dukun sakti. Sekarang coba ikuti petunjukku. Pergilah pantai Tanjung Menangis, bawalah semua istri pengiringmu. Di sana kamu mandi suci, dan selepas berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Apabila sel berdoa kamu ajak prajuritmu untuk memancing ikan sana. Camkanlah petuahku ini, mudah-mudahan Tuhan memberkatimu" Setelah berkata demikian, Kakek Betal Jemur langsung menghilang.
Raden Panji Anom sangat suka cita hatinya. Keesokan harinya, is pergi ke pantai Tanjung Menangis untuk melaksanakan nasehat Kakek Betal Jemur itu. Di sana mereka mandi suci, membersihkan diri dari kotoran lahir dan batin. Selesai mandi lalu berdoa bernama. Kemudian dilanjutkan dengan memancing ikan di pinggir pantai.
Konon kabarnya di sebelah utara Pulau Lombok ada seorang Raksasa sakti bernama Danawe Kembar yang mendiami Gunung Kembar. Raksasa itu mempunyai putri yang sangat buruk mukanya dan jugs memiliki kesaktian yang hebat namanya Danawe Sari.. Pada suatu hari Danawe Kembar berkata kepada Danawe Sari " Wahai putriku, aku belum puss melihat kesaktianmu. Aku ingin menguji sejauh mans perkembangan kesaktianmu selama ini. Oleh karena itu engkau akan kulemparkan ke laut . Apakah kau siap?" Tanya Danawe Kembar.
" Hamba siap, ape saja perintah Ramanda" kata Danawe Sari. Danawe Kembar memerintahkan prajurit raksasanya untuk membuat peti mayat. Di dalam peti itu Danawe Sari. Pada saat memancing, tiba-tiba tali kailnya ditarik oleh sesuatu yang sangat berat. Roden Panji Anom memerintahkan prajuritnya untuk menarik tali kail. Apa yang terjadi ? Ternyata bukan ikon yang didapatkan, melainkan sebuah peti yang besar dibuat dari kayu jati dan bergembok. Lebih aneh lagi, ketika peti itu dibuka, ternyata isinya adalah seorang gadis cantik yang sangat manis dan ayu. Kecantikannya bagaikan bulan yang pemurah. Senyumnya mengulum manis dan ada lesung pipit di kedua pipinya. Wajahnya bulat oval dan matanya tajam berseri. Rambutnya hitam ikal mayang dan dikonde sebagian, menambah indah kecantikannya.
Raja Panji Anom terpesona, ia bertanya," Wahai gadis manis. Dari manakah kamu berasal? Siapakah orang tuamu dan mengapa kamu ada di peti dihanyutkan oleh air lout seperti ini?. Tolong ceritakan wahai putri ayu!"
Ampun Tuanku, hamba pun tidak tahu dari mans hamba berasal. Hamba juga tidak dak tahu siapa orang tua hamba. Hamba adalah musafir yang terbuang dan terlunta-lunta dihanyuatkan air samudra." Jawab Putri ayu dalam peti berbasa basi.
Raja Panji Anom langsung jatuh cinta dan membawa gadis cantik itu pulang ke istana untuk dinikahi. Kesembilan istrinya setuju saja bermadu dengan gadis cantik itu dan penuh kesabaran karena raja memang ingin punya putra. Setelah peristiwa itu, beberapa bulan kemudian kesembilan orang istri raja hamil. Tetapi sayang, cinta dan kasih sang sang Raja telah tumpah rush kepada gadis peti yang sangat cantik itu. Hari demi hari raja mabuk kepayang. Sampai-sampai ia melupakan dan menyia-nyiakan
Raden Panji Segara pergi ke istana menemui ayahnya Di sana ia mengakui tentang kelahirannya di dalam gua dan turut dibenarkan oleh Kakek Betal Jemur. Raja Panji Anom sangat gembira. Namun sebaliknya Danawe Sari sakit hati. Walaupun begitu ia berusaha menahan sakitnya dan pura-pura cinta kepada Raden Panji Segara.
Pada suatu hari Danawe Sari ingin mengirim Raden Panji Segara ke Gunung Kembar untuk menuntut i1mu kesaktian pada Danawe Kembar. Raden panji Anom setuju saja atas usul Danawe Sari itu. Danawe Sari lalu menulis surat untuk ayahnya dan dimasukkan ke dalam amplop. Di tengah jalan Raden Panji Segara dihadang oleh Kakek Betal Jemur dan melihat isi surat itu. Surat itu berbunyi demikian:
" Ayahanda Danawe Kembar. Ini hamba kirim anak dari madu hamba. Dia satu-satunya musuh ananda yang sangat berbahaya dia calon pewaris kerajaan ayahnya. Tolong ayah bunuh dia dan sisakan ananda biji matanya. Salam Nanda Danawe Sari”.
Setelah dibaca oleh kakek Betal Jemur, surat itu dirobek dan diganti isinya menjadi begini:
“Wahai ayahanda yang maha sakti. Syukurlah ananda telah dikaruniai seorang anak laki yang tampai. Ini dia hamba utus satu-satunya anak hamba yang menjadi calon raja namanya Raden Panji Segara. Sesuai dengan pengalaman ananda ditengah segera. Oleh karena itu, apabila anak ini sudah pandai berikan ia empat pasang bola mata yang ayah simpan dan suruhlah cepat-cepat pulang karena negera membutuhkan. Ananda akan merasa bangga punya anak sakti. Salam nanda Denawe Sari”.
Setiba di Gunung Kembar, Raden Panji Segara diterima diajar olah kanuragan dan berbagai kesaktian. la menga kemajuan pesat karena ia memang putra raja yang tinggi dan cerdas. Setelah beberapa hari ia telah memiliki kesaktian. melebihi Danawe Sari. Raden Panji Segara disuruh pulang istana dan diberikan membawa bungkusan ajaib berisi pasang bola mata.
Di istana kerajaan terjadi gempar. Setelah Raden Segara pulang, terbongkarlah kedok rahasia kejah Danawe Sari. Danawe Sari bingung mengapa ayahnya - membunuh Panji Segara. la sangat marah dan sakit Raden Panji Segara menceritakan kejadian yang sebenar-,, dari awal sampai ia pulang dari gunung kembar. Danawe membela diri dengan berbagai dalih, tetapi bola mata itu. yang menjadi bukti nyata. Dan di dalam gua sana masih mendatangi 4 orang permaisuri yang hidup dalam tidak bisa melihat.
Raja Panji Anom sangat marah. Untuk membuktikan s yang benar dan slaps yang salah , Raden Panji Segara disu perang tanding dengan Danawe Sari. Danawe mengeluarkan sumbar, " Anak ingusan bau kencur, memang menang melawan kesaktianku yang sempurna" ejeknya.
Raden Panji Segara tenang saja. Akhirnya terjadi pertempuran sengit. Danawe Sari mengubah wujud menjadi seorang Raksasa Betina Giginya runcing dan bau amis menyengat. Raja Panji Anom muntah melihatnya. Ra Panji Segara tidak memberikan kesempatan kepada Danavm. Sari untuk membuat ulah di istana. la langsung menyergap. Tentu saja terjadi pertempuran seru. Masing-masing. mengeluarkan kesaktian. Danawe Sari mengubah dlrlj'adi Raden Panji.
Segara mengubah diri jadi air. Semua kesaktian dikarena sampai menjadi binatang buss, menjadi kelelawar dan sebagainya namun semuanya dapat diimbangi oleh Raden Panji Segara. Ada satu kesaktian yang belum diajarkan oleh Danawe Kembar kepada Danawe Sari. Dan kesaktian itu telah diajarkan kepada Raden Panji Segara. Yaitu kesaktian meniup seruling buluh perindu. Siapa saja musuh yang ditujukan jika ia mendengar bunyi buluh perindu itu akan langsung telex, sampai lupa diri. Kesempatan itulah digunakan oleh Raden Panji Segar untuk membunuh Danawe Sari.
Akhirnya Danawe Sari dapat dikalahkan. Raja Panji Anom menyadari kesalahannya selama ini, telah mabuk cinta oleh seorang gadis cantik yang ternyata putri raksasa yang jelek dan busuk. Raja Panji Anom pergi menjemput kesembilan istrinya di goa dan di kembalikan biji mats mereka. Raja Panji Anom meminta maaf kepada istri-istrinya. Di sana mereka berpelukan betangis-tangisansaling memaafkan. Karena semua kejadian yang lalu adalah merupakan suratan takdir Tuhan Yang Maha Esa. Menjadi pelajaran bagi kita.


BALANG KESIMBAR
Pada zaman dahulu di Pulau lombok tinggal seorang kakek tua bersama seorang cucunya yang bernama Balang Kesimbar. Kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Mereka hidup sebagai petani penggarap atau buruh tani yang hanya memperoleh upah dari menggarap sawah. Balang Kesimbar tinggal bersama kakeknya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia akibat wabah penyakit yang ganas menyerang desa tempat tinggalnya. Ketika itu Balang Kesimbar masih sangat kecil. la diasuh dan dibesarkan oleh kakeknya. Dengan penuh kesabaran sang Kakek mengasuh dan mendidik Balang Kesimbar. Meskipun kehidupan mereka serba kekurangan, akan tetapi kakeknya tidak pernah menge1uh dan putus asa. Balang Kesimbar mendapat pendidikan yang cukup berupa pendidikan akhlak dan budipekerti. la diasuh dan diajar tata cara bergaul dan kesopanan serta agar selalu tabah dan sabar menghadapi kehihidupan. disamping dididik oleh kakeknya sendiri, dia juga diserahkan dan diajarkan ilmu agama kepada seorang guru di kampungnya.
Berkat pendidikan itu, ia dapat hidup dan bergaul di tengah masyarakat dengan budi pekerti yang baik. Balang Kesimbar merupakan anak yang rajin, tekun dan penyabar. Mengingat kakeknya yang sudah lanjut usia, ia berusaha membantu kakeknya dalam menyiapkan segala keperluan hidup yang apa adanya.
Setelah Balang Kesimbar berusia remaja ia dapat bergaul ditengah masyarakat dengan baik, disebabkan asuhan dan Pendidikan yang telah diterimanya. la selalu menghargai orang-orang tua di desa itu. Balang Kesimbar disegani juga oleh teman sebayanya. Pada suatu malam Balang Kesimbarar mendengar berita dari teman-temannya bahwa di istana sedang diselenggarakan pertunjukan wayang kulit. Dalang yang tampil malam itu adalah dalang yang sangat terkenal. Lagi pula lakon ceritera yang akan dipentaskan adalah ceritera yang sangat bagus yaitu cerita bel Serat Menak yang mengisahkan Jayeng Rane waktu kecil.
"Bagaimana pendapatmu Balang, jika sehabis sembahyang isya kits berangkat bersama ke tempat pertunjukan wayang kata kawan-kawannya. ''Baiklah, aku memang sangat ingin menonton wayang, tetapi berangkatlah kalian lebih dahulu. Aku akan menyelesaikan kebutuhan kakekku. Setelah itu barulah aku datang-menyusul. Setelah itu Balang Kesimbar segera pulang mempersiapkan kebutuhan kakeknya. Dengan cepat menyediakan air, menanak nasi dan mempersiapkan t ticlur. Setelah semua slap ia pun meminta izin kepada kake "Kek, Izinkanlah aku menonton wayang di istana. Kata ka~s kawan dalangnya amat terkenal dan akan melakonkan ce yang amat balk. Teiah lama aku tak pernah menonton way Lebil-i-Ilebih cents tentang Jayeng Rane mass kecil. In kesempatan balk bagiku untuk menontonnya. Apakah Ka mengizinkan aku?'.
"Tentu, cucuku. Berangkatlah ke tempat pertunjukan itu. Tet jagalah dirimu balk-balk. Jangan sampai terlibat kalau terja sesuatu kegaduhan, perkelahian ataupun yang lain-lain". Setelah memperoleh izin Balang Kesimbar segera berangkat ketempat pertunjukan. Tetapi sayang, Ia datang terlambat. pintu gerbang telah ditutup karena penonton penuh sesak. Balang Kesimbar berusaha mencari jalan masuk lain tetapi tak berhasil, karena pintu masuk hanya satu. Balang Kesimbar pun berteriak-teriak mengitari tembok, tetapi tak seorang pun mendengar teriakannya. Semua orang sedang asyik menonton. Putus segala harapannya untuk dapat masuk ke arena pertunjukan.. Demi melepaskan kekecewaannya,
Balang Kesimbar duduk di depan pintu gerbang sambil merenungkan apa yang harus dikerjakan. Di tempat itu juga banyak orang lalu-lalang, tetapi tak seorang pun yang menyapanya. Tangannya sengaja, ia melihat sepotong arang tidak jauh dari tempat duduknya. Balang Kesimbar mengambil potongan arang dan mencoba menoreh-noreh di tembok istana. la tak berpikir apa yang harus ditulis, namun tangannya tiba-tiba menggambarkan sesuatu yang aneh.
Malam larut ketika Balang Kesimbar tiba di rumah Kakeknya pun tidur. Sang kakek merasa bingung mengapa secepat itu unya pulang. Tetapi setelah Balang Kesimbar menceritakan sebabnya, kakek merasa puas dan segera mengajak Balang Kesimbar untuk tidur, agar badan tetap segar dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik esok hari menjelang pagi ketika pertunjukan selesai, maka para penjaga kebersihan istana mulai melakukan tugas yaitu membersihkan sampah-sampah yang berserakan karena penonton amat ramai.
Ketika tiba di pintu gerbang, petugas istana sangat terkejut melihat coretan pada tembok istana.Setelah diamati ternyata coretan itu berbentuk seekor harimau yang amat ganas, dan bermata tujuh buah. Dua buah mata terdapat di kepala seperti lazimnya dua buah terdapat pada kedua sisi pinggang, dua buah lainnya terdapat pada pantat, sedang sebuah lagi terdapat pads ekor. Melihat hal itu petugas berpikir dalam hati. "Siapakah gerangan yang berani sekali menggambar pads tembok ini. Memang gambarnya bagus, tetapi kalau diketahui oleh baginda raja, pasti beliau akan murka. Ketimbang aku sendiri yang kena marah, lebih baik hal ini kulaporkan".
Setelah berpikir demikian, is pun segera menghadap dan melaporkan apa yang dilihatnya.
"Ampun tuanku. Hamba hendak menceritakan suatu hal". "Tentang apa"?, tanya raja
"Ampun tuanku. Di tembok pintu gerbang terdapat sebuah gambar harimau yang sangat menyeramkan. Hamba takut kena marah oleh Tuanku, karena itu sebaiknya silakan Tuanku menyaksikan sendiri gambar itu". Malam larut ketika Balang Kesimbar tiba di rumah. Kakeknya belum tidur. Sang kakek merasa bingung mengapa secepat itu cucunya pulang. Tetapi setelah Balang Kesimbar menceritakan sebab-sebabnya, kakeknya merasa puss dan segera mengaji, Balang Kesimbar untuk tidur, agar badan tetap segar dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik esok hari. Menjelang pagi ketika pertunjukan selesai, make pare penjaga kebersihan istana mulai melakukan tugas yaitu membersihkan sampah sampah yang berserakan karena penonton amat ramai. Ketika tiba di pintu gerbang, petugas istana sangat terkejut. la terkejut melihat coretan pads tembok istana. Setelah diamati ternyata coretan itu berbentuk seekor harimau yang amat bangga, dan bermata tujuh buah. Dua buah mate terdapat di kepala seperti, dua buah terdapat pads kedua sisi pinggang, dua buah lainnya terdapat pads pantat, sedang sebuah lagi terdapat pads ekor. Melihat hal itu petugas berpikir dalam hati. "Siapakah gerangan yang berani sekali menggambar pada tembok ini. Memang gambarnya bagus, tetapi kalau diketahui oleh baginda raja, pasti beliau akan murka. Ketimbang aku sendiri yang kena marah, lebih baik hal ini kulaporkan". Setelah berpikir demikian, is pun segera menghadap dan melaporkan spa yang dilihatnya.
"Ampun tuanku. Hamba hendak menceritakan suatu hal". "Tentang spa"?, tanya raja "Ampun tuanku. Di tembok pintu gerbang terdapat sebuah gambar harimau yang sangat menyeramkan. Hamba takut kena marah oleh Tuanku, karena itu sebaiknya silakan Tuanku menyaksikan sendiri gambar itu".
Mendengar laporan itu, dengan seketika raja berangkat untuk membuktikannya. Setelah tampak olehnya gambar itu raja pun berkata "Siapa yang melakukan perbuatan ini. Tidakkah ia tahu bahwa sipapa pun dilarang mencoreng tembok ini? tetapi aku melihat gambar ini sangat bagus. Siapa gerangan yang menggambar harimau ini ? Tapi siapa pun dia, harus bertanggung jawab. la harus mencari harimau seperti yang terlihat pads gambar itu. Harimau bermata tujuh yang kelihatan aneh. Bila gaga) menemukannya nyawanya sebagai pengganti. Kini kuperintahkan untuk mencari yang melakukan perbuatan ini sampai dapat!", kata sang Raja kepada prajuritnya.
Sesungguhnya raja sangat kagum akan kebagusan gambar itu. Ketika melihatnya untuk pertama kali, raja terkejut dan hampir lari. Tampaknya garam seperti harimau yang sesungguhnya. Raja benar-benar heran dan penasaran kepada pelukisnya. Menerima perintah langsung dari raja, petugas itu pun langsung mencari tahu, ia mendatangi rakyat kemudian ditanya satu persatu. Dari sekian banyak rakyat yang ditanya mengenai orang yang melukis di tembok istana, sebagian besar menyatakan tidak tahu. seketika muncul seseorang yang memberikan laporan bahwa tadi malam Balang Kesimbar tampak tidak menonton dan duduk-duduk persis di depan tembok tempat lukisan itu. Mungkin saja dia yang melakukan perbuatan itu. Tetapi orang itu menambahkan, bahwa Balang Kesimbar masih sangat muda, jadi tidak berani menjamin ia mampu melukis begitu bagus, karena la juga bukan anak yang tergolong cerdas. Walaupun demikian, petugas istana mencari dan menemukan Balang Kesimbar dan berkata "Hai Balang Kesimbar, Saat ini juga kau harus menghadap ke istana. Raja kita hendak menanyakan sesuatu kepadamu!".
"Baik Tuan "jawab Balang Kesimbar tanpa banyak tanya seraya bersiap berangkat menuju istana. Setiba di istana Balang Kesimbar melihat banyak orang. la bertanya dalam hati. "Ada apa gerangan ?" Ketika di hadapan sang Raja itu ia ditanya langsung-oleh raja "Siapakah kamu ini anak muda "Hamba bernama Balang Kesimbar Tuanku". "Apakah kau yang menggambar di tembok gerbang itu?", tanya raja. "Benar tuanku. Hambalah yang menggambar harimau itu", jawab Balang Kesimbardengan tenang. "Apa sebab kau begitu berani menggambar di tempat itu? Bukankah itu tembok gerbang istana?. Tidakkah kau mengetahui bahwa dilarang untuk mencoreng-coreng tembok istana? Tetapi karena kau telah mengakui perbuatanmu, sekarang kau kutugaskan mencari seekor harimau seperti yang telah kau gambar itu. Harimau garang dengan mata tujuh buah. Ingatlah Balang, jika kau gaga) menemukan harimau bermata tujuh maka nywamu jadi penggatinya. Nah, berangkatlah!"
Balang Kesimbar segera kembali ke rumahnya. Tak henti-¬henti ia berpikir, bagaimana mungkin la berhasil mencari binatang seperti yang telah ada digambarnya, karena la hanya mencoret-coret mengikuti hati nurani dan guratan tangan. Setelah tiba di rumah, Balang Kesimbar menceritakan hal itu kepada kakeknya. la pun meminta nasehat untuk mengatasi beban yang ditimpakan kepadanya.
"Cucuku, Balang Kesimbar. Semua tugas yang dibebankan raja kepadamu, haruslah kau laksanakan sebaik-baiknya. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun sulitnya harus kau laksanakan. Kita harus menunjukkan kesetiaan kepada raja yang kita cintai. Aku pun tak mengetahui di tempat mans harimau semacam itu dapat kia ditemukan. Mungkin sekali harimau semacam itu tidak pernah ada. Kalaupun ada pasti sangat sulitlah untuk menangkapnya. Tetapi janganlah kau berputus asa cucuku, sebab semua kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Berangkatlah besok pagi dan kakek akan tetap mendoakan agar usahamu dapat berhasil. Segala keperluan perjalanan akan kupersiapkan malam ini juga. Kini beristirahatlah dengan tenang".
Esok hari ketika pajar mulai menyingsing, dan embun telah melepaskan diri dari dedaunan, Balang Kesimbar dibangunkan oleh kakeknya. Setelah memohon restu kepada orang tua itu, Balang Kesimbar turun dari rumah dan memulai pengembaraan untuk menyelesaikan tugas yang amat berat. Lama ia dalam perjalanan dan menemukan berbagai rintangan yang berat. la masuk hutan keluar hutan, menuruni lembah dan mendaki tebing. Sepanjang jalan ia kehausan dan kelaparan.la berjalan seakan tanpa arch dan tujuan pasti. Di dalam hati ia terus berpikir, " Mana mungkin harimau itu kutemukan, tetapi... mengapa akan melukis nya dengan begitu saja? Ada rahasia apa dengan lukisan itu? Pertanyaan semacam itu terus mengganjal di benaknya. ". Setelah melewati beberapa hutan belantara, di depannya ia melihat padang tandus yang begitu lugs la berkata dalam hati "Kalau aku melintasinya juga pasti badanku akan binasa. Jalan lain tak ada lagi di kiri kanan ku terdapat sungai yang amat dalam.
Aduh, apa dalam keadaan yang sulit itu ia teringat kepada bekal yang dipersiapkan kakeknya. Bekal itu dibungkus dengan lepe (seludang daun pinang) yang telah dihaluskan dan diikat dengan benang peninggalan ibu Balang Kesimbar. Dalam bungkusan makanan yang dikemas oleh kakenya itulah tersimpan kekuatan ghaib yang dapat menolong Balang Kesimbar mengatasi berbagai kesulitan. Setelah memusatkan cipta sejenak, bungkusan itu dilemparkan sekuat tenaga. Kemudian ia menggantung diri pads benang pengikatnya. Dengan berkah pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, Balang Kesimbar terangkat ke etas, menggelantung di angkasa sehingga berhasil menyeberangi padang yang berbahaya itu dengan selamat.
Perjalanan dilanjutkan lagi. la tidur di mane saja kemalaman. la berusaha makan sehemat mungkin untuk menjaga jangan sampai kehabisan bekal dalam pengembaraan yang tidak menentu ini. Setelah berjalan beberapa lama ia tiba di sebuah padang yang lain.
Balang Kesimbar pun melanjutkan perjalanan yang berat ini. Semua rintangan diihadapinya dengan sabar dan tabah disertai keyakinan akan hasil perjalanan ini. Beberapa lama kemudian kembalilah Balang Kesimbar berada di tepi sebuah padang. Padang itu dipenuhi dengan ular berbisa. Semua jenis ular berbisa terdapat di dalamnya. Untuk mengatasi kesulitan barn ini, Balang Kesimbar melakukan hal serupa seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. la berhasil lolos dari mars bahaya.
Rintangan demi rintangan dilaluinya dengan balk. Bahaya demi bahaya dapat diatasinya dengan selamat. Tetapi, rintangan dan bahaya masih belum habis jugs. Dalam perjalanan selanjutnya ia melihat seorang raksasa yang amat besar. Tetapi untunglah raksasa itu sedang tidur dengan pulasnya. Dan Balang Kesimbarpun berkata dalam hati.
"Untunglah raksasa itu sedang tidur. Kalau tidak pasti aku binasa karenanya. Tampaknya sangat mengerikan". Untuk mengatasi kesulitan itu Balang Kesimbar kembali pergunakan bungkusan tadi dan berhasil dengan selamat. la telah melewati raksasa itu dengan aman. Dan Balang Kesimbar pun melanjutkan perjalanan dengan cepat. Kekhawatiran masih saja melintas dalam hatinya. la khawatir kalau raksasa yang tengah tidur itu tiba-tiba terjaga dan mencium bau badannya. Tetapi akhirnya Balang Kesimbar tiba pads sebuah padang yang sangat kering. Rumput pun tak dapat tumbuh di atasnya. Panasnya tak terkatakan lagi. Tanahnya terdiri dari tanah sari yang sangat gembur. Padang ini harus disebrangi. Terasa keraguan dalam hati Balang Kesimbar. Terselip juga niat untuk kembali. Tetapi perjalanan sudah amat jauh. Betapapun padang ini harus disebrangi.
Setelah membulatkan tekat dan memohon keselamatan, Balang Kesimbar pun mulai melangkahkan kakinya memasuki padang itu. Setelah berjalan beberapa langkah, kakinya tenggelam ke dalam tanah, hingga ke lutut. Panasnya tak terkatakan lagi. Tetapi karena tekad telah membaja, Balang Kesimbar tak mundur walau selangkah.Dengan susah payah ia tetap melangkah maju. Kini badannya mulai tenggelam ke dalam pangs itu. Tanah telah mencapai pingan. Tetapi ia tetap berusaha untuk maju. Dan ia tenggelam makin jauh. Akhirnya tanah telah mencapai batas leher. Kini ia hampir tak sadarkan diri.
Pada saat yang paling keritis ini, tiba-tiba angin puyuh dahsyat melanda padang itu. Semua yang berada di dalamnya diterbangkan. Demikian pula Balang Kesimbar tak luput dari sasaran angin puyuh itu. la diterbangkan entah kemana. Tiba¬tiba ia meluncur jatuh dan berada di atas sebatang pohon sawo. Ketika membuka mats ia merasa heran. Dan sadarlah ia akan apa yang telah terjadii. Kemudian ia memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kini ia sadar bahwa perjalanannya selalu mendapat perlindungan. Karena merasa sangat payah, ia pun beistirahat di atas pohon itu.
Beberapa saat kemudian tatkala Balang Kesimbar terbangun ia mendengar suatu suara. "suara apakah itu?", tanyanya dalam hati. "Ada jugakah manusia lain di tengah hutan belantara ini?". la mencari arch suara itu. la memasang telinga dengan balk. Benar. la mendengar suatu suara. Sumbernya tak jauh dari tempat itu. Setelah diperhatikan dengan seksama jelaslah baginya suara itu suara alat tenun. Ketika pandangannya terarah ke bawah pohon sawo, ia melihat seseorang. "Siapakah berada di bawah? Jin atau manusia?", tanya Balang Kesimbar di dalam hati. la berusaha menenangkan jiwanya. Setelah beberapa saat berlalu, ia kembali memperhatikan apa yang telah dilihatnya tadi. Apa yang dilihatnya ternyata, tak berubah. seorang wanita yang tengah menenun. Karena asyik dalam pekerjaan, ia tidak mengetahui seseorang berada di¬atasnya. Balang Kesimbar mengambil sebiji buah sawo yang kecil. la berniat mengganggu wanita itu. la ingin membuat wanita itu terkejut. Lalu dilemparkannya buah sawo itu kearah wanita itu. Tetapi tidak mengenai sasaran. Buah itu terjatuh di depan wanita itu.
Balang Kesimbar mengambil buah yang kedua. Buah itupun dilemparkan. Tetapi tidak mengenai sasaran lagi. Buah terjatuh disamping wanita itu. Dengan tidak merasa curiga, wanita itu memandang buah sawo yang jatuh itu. Buah yang ketiga diambil oleh Balang Kesimbar, dan kembali dilemparkan kepada wanita itu. Tetapi masih juga gagal. Buah itu jatuh disamping kanan. Bersamaan dengan itu wanita itu memandang ke atas. la amat terkejut melihat seorang pemuda berada di atasnya. Berbagai pikiran berkecambuk di dalam hatinya. Dengan cepat ia berkata.
"Hai lelaki, cepatlah turun sebelum kakekku kembali. Kalau ia mengetahui ada manusia lain di tempat ini, pasti musnah dimakannya. Ketahuilah kakekku adalah seorang raksasa". Mendengar kata-kata itu Balang Kesimbar turun dengan segera.
"Pastilah raksasa itu yang telah kujumpai dalam perjalanan bisik hatinya. Setelah saling sapa dan berkenalan, Balang Kesimbarpun menceritakan kisahnya dari awal hingga berada di atas pohon sawo itu. Setelah itu, wanita tadi yang ternyata seorang putri, menyuruh Balang Kesimbar agar menyiram tubuhnya dengan air jeruk, untuk mengurangi bau. Setelah itu, Balang Kesimbar dimasukkan ke dalam sebuah peti. Tak lama kemudian raksasa itu pun datang.
"Cucuku, aku mencium bau manusia lain di tempat ini. Aku sungguh gembira dengan tak bersusah payah, santapan telah berada diujung hidung". "Kek, yang kakek cium itu adalah bauku. Kalau berniat menyantapku, santaplah sekarang juga". "Oh, tidak. Aku tak akan tega memakan dagingmu. Kau sangat kusayangi. Sukar mencari cucu secantik kau. Nah, sekarang cobalah katakan apa keinginanmu. Akan kucarikan secepatnya". "Terima kasih, kek. Carikanlah aku buah-buahan yang masih segar. Aku sangat ingin memakannya".
Dengan singkat diceritakan raksasa itu pun terbang ke suatu tempat yang ditumbuhi berbagai jenis buah-buahan.-Tak lama kemudian ia pun telah kembali dengan membawa berbagai jenis buah-buahan, berupa buah manggis, salak, durian, duku, dan lain-lain.
"Nah, sekarang apalagi yang kau ingini cucuku?".
"Kek, kalau benar kakek sayang padaku, carikanlah aku daging rusa yang segar. Aku sangat ingin menikmatinya. Maukah kakek?".
"Tentu, tentu. sekarang jugs akan kucarikan. Daging rusa bukanlah daging yang sukar diperoleh. Sebentar lagi pasti aku telah datang membawanya". Dan raksasa itu pun berangkatlah.
Segera setelah raksasa itu berangkat, Balang Kesimbar pun dikeluarkan dari dalam peti. Dan disuguhi hidangan secukupnya. Kemudian ia dimandikan dengan air jeruk. setelah itu kembali di masikkan ke dalam tempat semula. Tak lama kemudian raksasa itu telah kembali.
"Tuanku, dengan hormat hamba melaporkan bahwa Balang Kesimbar memiliki seorang isteri yang amat cantik. Lebih dari itu isterinya itu adalah seorang putri. Sulit kits bisa menemukan seorang wanita secantik itu. Menurut perasaan hamba tak pantas sama sekali Balang Kesimbar memiliki isteri seperti itu. Seharusnya tuankulah yang paling berhak memilikinya".
"Bila demikian halnya, aturlah suatu siasat untuk melenyapkan Balang Kesimbar",katanya.
Maka diaturlah suatu siasat untuk membunuhnya. la akan diperintahkan untuk memperdalam sumur yang telah dalam. Bila Balang Kesimbar berada di dalamnya, maka sumur itu beramai-ramai akan dijatuhi batu. Pastilah Balang akan mati di dalamnya. Bila siasat itu gagal, Balang Kesimbar akan diperintahkan memanjat pohon kelapa yang amat tinggi. Setelah berada di puncak pohon, orang banyak akan menebang pohon kelapa tersebut dan pastilah Balang Kesimbar akan mati.
Tetapi, semua rencana busuk itu tercium oleh Balang Kesimbar. Berkat kesaktian dan kepintaran isterinya. Balang Kesimbar dapat lolos dari rencana busuk itu. la membuat boneka dari tepung beras Dalam peristiwa ini pun isteri Balang Kesimbar berusaha untuk menyelamatkan suaminya. Sebelum pelaksanaan pemeriksaan darah dijalankan, Balang Kesimbar disuruh meminum santan kelapa sebanyak mungkin. Dan perbuatan ini menyebabkan ketika pemeriksaan tiba, ternyata darah yang keluar dari tubuh Balang Kesimbartampak berwarna putih.
Dengan peristiwa itu, Balang Kesimbar berhak menjadi raja menggatikan raja yang zalim itu. Rakyat dengan gembira menyambut upacara penobatannya menjadi raja. Mereka menyelenggarakan pesta empat puluh hari empat puluh malam. Dengan demikian, Balang Kesimbar mulai memerintah kerajaan dengan aman dan sentosa, dan didampingi oleh permaisuri yang memang berasal dari putri. Dengan demikian rakyat hidup rukun, damai dan negeri menjadi aman serta makmur.


Keong Emas
Raja Kertamarta adalah raja dari Kerajaan Daha. Raja mempunyai 2 orang putri, namanya Dewi Galuh dan Candra Kirana yang cantik dan baik. Candra kirana sudah ditunangkan oleh putra mahkota Kerajaan Kahuripan yaitu Raden Inu Kertapati yang baik dan bijaksana.
Tapi saudara kandung Candra Kirana yaitu Galuh Ajeng sangat iri pada Candra kirana, karena Galuh Ajeng menaruh hati pada Raden Inu kemudian Galuh Ajeng menemui nenek sihir untuk mengutuk candra kirana. Dia juga memfitnahnya sehingga candra kirana diusir dari Istana ketika candra kirana berjalan menyusuri pantai, nenek sihirpun muncul dan menyihirnya menjadi keong emas dan membuangnya kelaut. Tapi sihirnya akan hilang bila keong emas berjumpa dengan Tunangannya.
Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut. Keong Emas dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi dilaut tetapi tak seekorpun didapat. Tapi ketika ia sampai digubuknya ia kaget karena sudah tersedia masakan yang enak-enak. Sinenek bertanya-tanya siapa yang memgirim masakan ini.
Begitu pula hari-hari berikutnya sinenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek pura-pura kelaut ia mengintip apa yang terjadi, ternyata keong emas berubah menjadi gadis cantik langsung memasak, kemudian nenek menegurnya " siapa gerangan kamu putri yang cantik ? " Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh saudaraku karena ia iri kepadaku " kata keong emas, kemudian candra kirana berubah kembali menjadi keong emas. Nenek itu tertegun melihatnya.
Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu candra kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihirpun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati Kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah. Diperjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu.
Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap. Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi kedesa dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia kedesa Dadapan Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Tapi ternyata ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihatnya tunangannya sedang memasak. Akhirnya sihirnya pun hilang karena perjumpaan dengan Raden Inu. Tetapi pada saat itu muncul nenek pemilik gubuk itu dan putri Candra Kirana memperkenalkan Raden Inu pada nenek. Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya keistana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Galuh Ajeng pada Baginda Kertamarta.
Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Galuh Ajeng mendapat hukuman yang setimpal. Karena takut Galuh Ajeng melarikan diri kehutan, kemudian ia terperosok dan jatuh kedalam jurang. Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapatipun berlangsung. Mereka memboyong nenek dadapan yang baik hati itu keistana dan mereka hidup bahagia.
Timun Emas
Mbok Sirni namanya, ia seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja.
Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan keraksasa itu untuk disantap.
Mbok Sirnipun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat setelah dua minggu diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas. Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama timun emas.
Semakin hari timun emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok sirni amat takut kehilangan timun emas, dia mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa,semakin enak untuk disantap, raksasa pun setuju.
Mbok Sirnipun semakin sayang pada timun emas, setiap kali ia teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih. Suatu malam mbok sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam,dan terasi sebagai penangkal. Sesampainya dirumah diberikannya 4 bungkusan tadi kepada timun emas, dan disuruhnya timun emas berdoa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun emaspun disuruh keluar lewat pintu belakang untuk Mbok sirni. Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun.
Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa.
Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon banbu yang sangat tinggi dan tajam.
Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati.
Yang terakhit Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati. “Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini " Timun Emas mengucap syukur. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai.

AJI SAKA
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.
Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.
Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.
Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.
Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu. Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.
Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.
Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.
Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

SI DAYANG BANDIR
Dahulu di propinsi Sumatera Utara terdapat dua kerajaan. Kerajaan itu dikenal dengan nama Kerajaan Timur dan Kerajaan Barat. Pada suatu ketika, raja yang berkuasa di Kerajaan Timur menikah dengan adik perempuan dari raja yang berkuasa di Kerajaan Barat. Beberapa tahun kemudian lahir seorang bayi perempuan yang diberi nama ‘Si Dayang Bandir’, tujuh tahun kemudian lahir seorang anak laki-laki yang bernama Sandean Raja. Ketika masih kecil, ayah Si Dayang Bandir dan Sandean Raja meninggal dunia.
Dengan meninggalnya raja di Kerajaan Timur, maka tahta Kerajaan Timur menjadi kosong. Berhubung Sandean Raja masih kecil dan belum bisa menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja, maka dalam sidang istana kerajaan menunjuk Paman Kareang untuk mengendalikan pemerintahan kerajaan. Si Dayang Bandir mempunyai akal untuk menyelamatkan benda-benda pusaka agar jangan sampai jatuh ke tangan pamannya yang hanya menggantikan pemerintahan sementara. “Hmm.. benda-benda pusaka ini haurs kuselamatkan agar jangan sampai jatuh di tangan pamanku, kelak adik Sandean Raja lah yang berhak atas benda-benda pusaka ini,” gumam Si Dayang Bandir.
Tidak berapa lama, Paman Kareang mengetahui benda-benda pusaka peninggalan raja telah disimpan Si Dayang Bandir. Ia mendesak Si Dayang Bandir agar menyerahkan benda-benda itu. “Awas! Kalau benda-benda itu tidak diserahkan padaku, keselamatanmu akan terancam!” Itulah ancaman Paman Kareang kepada Si Dayang Bandir. Namun Si Dayang Bandir tetap tidak mau menyerahkan benda-benda pusaka itu.
Kekesalan Paman Kareang menyebabkan Si Dayang Bandir dan Sandean Raja dibuang ke hutan. Sesampainya di hutan, Paman Kareang mengikat Si Dayang Bandir di atas sebatang pohon sehingga tidak dapat dijangkau adiknya, Sandean Raja. Sandean Raja menangis tak henti-henti sampai kehabisan air mata. Sandean Raja mencoba membebaskan kakaknya. Tapi ia tidak berhasil memanjat pohon tersebut, setiap mencoba ia pun jatuh. Tubuhnya menjadi tergores dan luka-luka. “Biarlah kekejaman paman ini kutanggung sendiri,” kata Si Dayang Bandir lemah. “Bila kau lapar, makanlah pucuk-pucuk daun yang berada di sekitarmu,” ucap Si Dayang Bandir, kepada adiknya yang kelaparan.
Setelah beberapa hari terikat di batang pohon, akhirnya Si Dayang Bandir tampak mulai lemas dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. “Begitu kejam pamanku!” umpat Sandean Raja. Ia pun hidup seorang diri di hutan selama beberapa tahun hingga ia menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Selama di hutan, ia selalu ditemani roh Si Dayang Bandir. “Ku harap kau segera menghadap Raja Sorma,” bisik halus Roh Si Dayang Bandir, kepada Sandean Raja. Raja Sorma adalah adik kandung dari Ibu Sandean Raja. Raja Sorma tidak kejam seperti Paman Kareang yang saat ini sudah menjadi raja di Kerajaan Timur.
Sandean Raja berhasil keluar dari hutan dan segera menuju ke wilayah Kerajaan Barat untuk menghadap Raja Sorma. “Ampun Sri Baginda Raja Sorma. Hamba adalah Sandean Raja. Putra Mahkota Kerajaan Timur,” kata Sandean Raja. Raja Sorma sangat terkejut dengan ucapan Sandean Raja karena ia mendengar bahwa Sandean Raja dan Si Dayang Bandir telah meninggal dunia. Untuk membuktikan bahwa Sandean Raja benar-benar keponakannya, Sandean Raja diuji memindahkan sebatang pohon hidup dari hutan ke Istana. Ujian selanjutnya, Sandean Raja diharuskan menebas sebidang hutan untuk dijadikan perladangan. Pekerjaan itu diselesaikan Sandean Raja dengan baik. Selanjutnya, Sandean Raja diperintahkan untuk membangun istana besar yang disebut “Rumah Bolon” dan ternyata berhasil dan selesai dalam waktu tiga hari.
Raja Sorma belum mau mengakui Sandean Raja sebagai keponakannya sebelum menempuh ujian terakhir. Yaitu, menunjuk seorang puteri raja di antara puluhan gadis di sebuah ruang yang gelap gulita. Sandean Raja merasa khawatir kalau ujian yang terakhir ini ia tidak berhasil. “Jangan khawatir, aku akan membantumu,” bisik roh Si Dayang Bandir. Akhirnya Sandean Raja berhasil memegang kepala puteri raja yang sedang bersimpuh. Atas keberhasilannya, Sandean Raja diakui sebagai keponakan Raja Sorma dan dinikahkan dengan puterinya. Setahun kemudian, Sandean Raja bersama prajurit Kerajaan Barat menyerang Kerajaan Timur yang dikuasai oleh paman Raja Kareang. Dalam waktu yang tidak lama, Kerajaan Timur berhasil ditaklukkan dan Raja Kareang terbunuh oleh Sandean Raja. Kerajaan Timur akhirnya di kuasai oleh Sandean Raja. Dan akhirnya Sandean Raja dinobatkan menjadi raja Kerajaan Timur dan hidup bahagia bersama istri dan rakyatnya.
Moral :
Untuk membuktikan kebenaran diperlukan ujian yang keras. Hanya orang-orang yang bersemangat, sabar dan besar hatilah yang dapat melewati ujian seberat apapun.
Sumber : Elexmedia



Calon Arang
Pada suatu masa di Kerajaan Daha yang dipimpin oleh raja Erlangga, hidup seorang janda yang sangat bengis. Ia bernama Calon Arang. Ia tinggal di desa Girah. Calon Arang adalah seorang penganut sebuah aliran hitam, yakni kepercayaan sesat yang selalu mengumbar kejahatan memakai ilmu gaib. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali. Karena puterinya telah cukup dewasa dan Calon Arang tidak ingin Ratna Manggali tidak mendapatkan jodoh, maka ia memaksa beberapa pemuda yang tampan dan kaya untuk menjadi menantunya. Karena sifatnya yang bengis, Calon Arang tidak disukai oleh penduduk Girah. Tak seorang pemuda pun yang mau memperistri Ratna Manggali. Hal ini membuat marah Calon Arang. Ia berniat membuat resah warga desa Girah.
“Kerahkan anak buahmu! Cari seorang anak gadis hari ini juga! Sebelum matahari tenggelam anak gadis itu harus dibawa ke candi Durga!“ perintah Calon Arang kepada Krakah, seorang anak buahnya. Krakah segera mengerahkan cantrik-cantrik Calon Arang untuk mencari seorang anak gadis. Suatu perkerjaan yang tidak terlalu sulit bagi para cantrik Calon Arang.
Sebelum matahari terbit, anak gadis yang malang itu sudah berada di Candi Durga. Ia meronta-ronta ketakutan. “Lepaskan aku! Lepaskan aku!“ teriaknya. Lama kelamaan anak gadis itu pun lelah dan jatuh pingsan. Ia kemudian di baringkan di altar persembahan. Tepat tengah malam yang gelap gulita, Calon Arang mengorbankan anak gadis itu untuk dipersembahkan kepada Betari Durga, dewi angkara murka.
Kutukan Calon Arang menjadi kenyataan. “Banjir! Banjir!“ teriak penduduk Girah yang diterjang aliran sungai Brantas. Siapapun yang terkena percikan air sungai Brantas pasti akan menderita sakit dan menemui ajalnya. “He, he... siapa yang berani melawan Calon Arang ? Calon Arang tak terkalahkan!” demikian Calon Arang menantang dengan sombongnya. Akibat ulah Calon Arang itu, rakyat semakin menderita. Korban semakin banyak. Pagi sakit, sore meninggal. Tidak ada obat yang dapat menanggulangi wabah penyakit aneh itu..
“Apa yang menyebabkan rakyatku di desa Girah mengalami wabah dan bencana ?” Tanya Prabu Erlangga kepada Paman Patih. Setelah mendengar laporan Paman Patih tentang ulah Calon Arang, Prabu Erlangga marah besar. Genderang perang pun segera ditabuh. Maha Patih kerajaan Daha segera menghimpun prajurit pilihan. Mereka segera berangkat ke desa Girah untuk menangkap Calon Arang. Rakyat sangat gembira mendengar bahwa Calon Arang akan ditangkap. Para prajurit menjadi bangga dan merasa tugas suci itu akan berhasil berkat doa restu seluruh rakyat.
Prajurit kerajaan Daha sampai di desa kediaman Calon Arang. Belum sempat melepaskan lelah dari perjalanan jauh, para prajurit dikejutkan oleh ledakan-ledakan menggelegas di antara mereka. Tidak sedikit prajurit Daha yang tiba-tiba menggelepar di tanah, tanpa sebab yang pasti.
Korban dari prajurit Daha terus berjatuhan. Musuh mereka mampu merobohkan lawannya dari jarak jauh, walaupun tanpa senjata. Kekalahan prajurit Daha membuat para cantrik, murid Calon Arang bertambah ganas. “Serang! Serang terus!” seru para cantrik. Pasukan Daha porak poranda dan lari pontang-panting menyelamatkan diri. Prabu Erlangga terus mencari cara untuk mengalahkan Calon Arang. Untuk mengalahkan Calon Arang, kita harus menggunakan kasih saying”, kata Empu Barada dalam musyawarah kerajaan. “Kekesalan Calon Arang disebabkan belum ada seorang pun yang bersedia menikahi puteri tunggalnya.“
Empu Barada meminta Empu Bahula agar dapat membantu dengan tulus untuk mengalahkan Calon Arang. Empu Bahula yang masih lajang diminta bersedia memperistri Ratna Manggali. Dijelaskan, bahwa dengan memperistri Ratna Manggali, Empu Bahula dapat sekaligus memperdalam dan menyempurnakan ilmunya.
Akhirnya rombongan Empu Bahula berangkat ke desa Girah untuk meminang Ratna Manggali. “He he … aku sangat senang mempunyai menantu seorang Empu yang rupawan.” Calon Arang terkekeh gembira. Maka, diadakanlah pesta pernikahan besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Pesta pora yang berlangsung itu sangat menyenangkan hati Calon Arang. Ratna Manggali dan Empu Bahula juga sangat bahagia. Mereka saling mencintai dan mengasihi. Pesta pernikahan telah berlalu, tetapi suasana gembira masih meliputi desa Girah. Empu Bahula memanfaatkan saat tersebut untuk melaksanakan tugasnya.
Di suatu hari, Empu Bahula bertanya kepada istrinya, “Dinda Manggali, apa yang menyebabkan Nyai Calon Arang begitu sakti?“ Ratna Manggali menjelaskan bahwa kesaktian Nyai Calon Arang terletak pada Kitab Sihir. Melalui buku itu, ia dapat memanggil Betari Durga. Kitab sihir itu tidak bisa lepas dari tangan Calon Arang, bahkan saat tidur, Kitab sihir itu digunakan sebagai alas kepalanya.
Empu Bahula segera mengatur siasat untuk mencuri Kitab Sihir. Tepat tengah malam, Empu Bahula menyelinap memasuki tempat peraduan Calon Arang. Rupanya Calon Arang tidur terlalu lelap, karena kelelahan setelah selama tujuh hari tujuh malam mengumbar kegembiraannya. Empu Bahul berhasil mencuri Kitab sihir Calon Arang dan langsung diserahkan ke Empu Baradah. Setelah itu, Empu Bahula dan istrinya segera mengungsi.
Calon Arang sangat marah ketika mengetahui Kitab sihirnya sudah tidak ada lagi, ia bagaikan seekor badak yang membabi buta. Sementara itu, Empu Baradah mempelajari Kitab sihir dengan tekun. Setelah siap, Empu Baradah menantang Calon Arang. Sewaktu menghadapi Empu Baradah, kedua belah telapak tangan Calon Arang menyemburkan jilatan api, begitu juga kedua matanya. Empu Baradah menghadapinya dengan tenang. Ia segera membaca sebuah mantera untuk mengembalikan jilatan dan semburan api ke tubuh Calon Arang. Karena Kitab sihir sudah tidak ada padanya, tubuh Calon Arang pun hancur menjadi abu dan tertiup kencang menuju ke Laut Selatan. Sejak itu, desa Girah menjadi aman tenteram seperti sediakala.
Moral : Moral : Calon Arang merupakan contoh seorang yang memiliki sifat pemarah dan tidak dapat menguasai nafsunya. Hendaknya seseorang tidak memaksakan kehendaknya pada orang lain dan tidak melakukan sesuatu hal yang dibenci orang lain. Karena pemaksaan kehendak akan berakibat buruk bagi diri sendiri.
Sumber : Elexmedia



Aladin dan Lampu Ajaib
Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak…" tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.
Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. "Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir. "Tidak, aku takut turun ke sana", jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. "Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu", kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. "Cepat berikan lampunya !", seru penyihir. "Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar", jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. "Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !", ucap Aladin.
Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah peri cincin kata raksasa itu. "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan."
Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. "Sebutkanlah perintah Nyonya", kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,"kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami". Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu", kata si peri lampu.
Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku".
Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.
Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.
Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. "Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku", seru Aladin. "Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. "Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir", ujar sang Putri. "Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang", jawab Aladin.
Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. "Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.


Cincin Sakti
Dahulu ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Sangrila. Rajanya bernama Mahawuni. Ia didampingi seorang permaisuri bernama Cendana. Pangeran Hawuna adalah satu-satunya putra mahkota yang kelak menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja. Pada suatu hari Pangeran Hawuna berburu ke hutan beserta pengawalnya. Dahulu masih banyak hutan yang belum pernah terjamah manusia. Dengan berbagai perlengkapan, Pangeran Hawuna masuk ke dalam hutan belantara. Sudah berhari-hari, Pangeran Hawuna bersama seorang pengawalnya menjelajahi hutan, namun belum seekor binatangpun berhasil ditangkap. Binatang yang mereka incar selalu lepas. “Hari-hari sial,” kata pengawalnya kepada Pangeran Hawuna. Pangeran Hawuna membangun kemah dari dedaunan di tengah semak-semak. Tiba-tiba…..”Hantu!” seru pengawal Pangeran Hawuna sambil menunjuk semak-semak bergerak diiringi rintihan tangis seorang wanita. Pangeran Hawuna segera siaga dengan alat-alat buruannya.
“Aku bukan hantu!” seru seorang gadis berpakaian kumal yang muncul dari rimbunan semak itu. “Namaku Nuri,” tambah gadis cantik itu memperkenalkan diri sambil berjabatan tangan dengan Pangeran Hawuna. Pangeran Hawuna menerimanya dengan senang hati, betapapun masih diliputi rasa keraguan. Nuri menceritakan bahwa dirinya berasal dari kerajaan Bintan. Ia puteri Raja yang diculik Nenek sihir jahat. Saat itu pun, ia masih berada di dalam cengkeraman tangan si Nenek Sihir. Usaha meloloskan diri selalu gagal. Namun, ia selalu mohon kepada Sang Deawata agar bisa segera bebas dari jerat kesaktian si Nenek sihir.
“Hey Nuri! Cepat kembali ke gua!” perintah Nenek Sihir yang muncul tiba-tiba. Ia tertawa melengking dan menakutkan. Pakaian dan rambutnya kumal. Badannya kurus dan bungkuk. Setiap membuka mulut, giginya mengeluarkan pancaran sinar kekuning-kuningan. Tangan kanannya memegang tongkat berkepala ular naga yang dari lidahnya mengeluarkan cahaya merah. Tongkat itu adalah tongkat ajaib, sebagai senjata andalan Nenek Sihir. Di bawah pengaruh sihir itu, Putri Nuri melesat ke angkasa, terbang mengikuti kemauan nenek sihir.
Pangeran Hawuna berusaha mengejar, namun sia-sia. Bahkan ia terpisah dari pengawalnya. Hari menjelang malam, Pangeran Hawuna pun merasa lelah. Ia beristirahat di bawah pohon. Dilihatnya sebuah lentera di sebuah gubuk dekat dengan tempatnya istirahat. Perlahan-lahan Pangeran Hawuna mendekati gubug itu. “Siapakah kau?” sapa seorang kakek berjubah putih dan memakai ikat kepala putih. Janggutnya juga putih memanjang. Tampaknya ia adalah seorang kakek sakti. Pangeran Hawuna segera duduk bersila di hadapannya. Ia memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud tujuannya.
“Oh, nenek sihir itu memang jahat sekali. Aku tidak mampu melawannya. Kaulah yang kutunggu-tunggu. Menurut firasatku kaulah yang mampu menandingi kesaktian nenek sihir itu,” ucap kakek sakti kepada Pangeran Hawuna sambil memberikan sebuah cincin bersinar yang menyilaukan. Cincin itu adalah cincin ajaib. Kakek sakti menekankan bahwa untuk melawan nenek sihir harus berhati-hati dan waspada. Cincin ajaib harus digosok terlebih dahulu sambil mengucapkan mantra yang harus diulang tiga kali. Cincin ajaib akan segera mengeluarkan cahaya yang sangat panas dan akan membakar lawan yang dihadapi. Kakek sakti segera mengenakan Cincin Sakti di jari manis tangan kiri Pangeran Hawuna. Seketika itu juga Pangeran Hawuna tampak memancarkan sinar yang berkilauan. Sinar cincin sakti telah menyatu dengan tubuh Pangeran Hawuna. Keberaniannya semakin bertambah. Semangatnya berkobar-kobar. “Aku akan menyertai perjuanganmu,” ucap kakek sakti pelan seraya menumpangkan kedua belah tangannya di kepala Pangeran Hawuna. Pangeran Hawuna mengucapkan terima kasih dan segera mohon diri.
Suasana Kerajaan Sangrila gempar, karena pengawal Pangeran Hawuna telah tiba di istana Kerajaan Sangrila dan melaporkan pada Raja Mahawuni bahwa Pangeran Hawuna telah diculik oleh nenek sihir penguasa hutan belantara. “Cari sampai ketemu!” perintah Raja Mahawuni kepada para pengawalnya. Perintah Raja Mahawuni dilaksanakan dengan menyiapkan ratusan prajurit khusus yang sudah terlatih dan biasa menjelajahi hutan belantara. Berhari-hari mereka menjelajahi hutan belantara, tetapi Pangeran Hawuna tidak dapat ditemukan. Mereka menjadi putus asa, tetapi tidak ada yang berani kembali ke istana karena khawatir mendapat hukuman dari Raja Mahawuni.
Sementara itu, Pangeran Hawuna dengan tangkas dan dan cerdiknya melompat dari pohon ke pohon berusaha menemukan puteri Nuri. Berkat kesaktian cincin sakti itulah Pangeran Hawuna dapat terbang sambil mengamati gua tempat nenek sihir. Pangeran Hawuna tiba disebuah gunung batu yang tinggi. Ia mengamati dengan seksama keadaan gunung itu. Didapatinya sebuah pintu batu besar yang dijaga raksasa menakutkan. Pangeran Hawuna ingin segera melewati pintu itu, tetapi raksasa itu melarangnya. Terjadilah pertempuran seru. Pangeran Hawuna segera membaca mantra sambil menggosok cincin sakti. Raksasa itu pun berteriak kepanasan dan akhirnya tewas terbakar.
“Hey anak muda! Wilayah ini adalah daerah kekuasaanku! Enyahlah kau!” bentak nenek sihir jahat sambil tertawa melengking. “Jangan buang waktu. Gosok cincin saktimu!” suara kakek sakti terngiang di telinga Pangeran Hawuna. Seketika itu juga, Cincin Sakti mengeluarkan sinar menyilaukan. Terjadilah pertempuran adu kesaktian yang seru. Nenek sihir jahat terpojok dan segera dihantam sinar menyilaukan cincin sakti. “Aduuh, aku tak tahan! Silau, panas!” pekik si nenek sihir. Tubuhnya menggelepar-gelepar terbakar. Akhirnya nenek sihir itu tewas. Puteri Nuri berhasil dibebaskan dan segera berkumpul kembali dengan keluarganya.
Moral : Belalah orang yang membutuhkan bantuan.Kejahatan pasti akan terkalahkan dengan kebaikan dan kebenaran.
Sumber : Elexmedia



Sungai Jodoh
Pada suatu masa di pedalaman pulau Batam, ada sebuah desa yang didiami seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia menjadi pembantu rumah tangga dari seorang majikan bernama Mak Piah. Mak Piah mempunyai seorang putri bernama Siti Mayang. Pada suatu hari, Mah Bongsu mencuci pakaian majikannya di sebuah sungai. “Ular…!” teriak Mah Bongsu ketakutan ketika melihat seekor ulat mendekat. Ternyata ular itu tidak ganas, ia berenang ke sana ke mari sambil menunjukkan luka di punggungnya. Mah Bongsu memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan itu dan membawanya pulang ke rumah.
Mah Bongsu merawat ular tersebut hingga sembuh. Tubuh ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar. Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Mah Bongsu memungut kulit ular yang terkelupas itu, kemudian dibakarnya. Ajaib… setiap Mah Bongsu membakar kulit ular, timbul asap besar. Jika asap mengarah ke Negeri Singapura, maka tiba-tiba terdapat tumpukan emas berlian dan uang. Jika asapnya mengarah ke negeri Jepang, mengalirlah berbagai alat elektronik buatan Jepang. Dan bila asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, datang berkodi-kodi kain tapis Lampung. Dalam tempo dua, tiga bulan, Mah Bongsu menjadi kaya raya jauh melebih Mak Piah Majikannya.
Kekayaan Mah Bongsu membuat orang bertanya-tanya.. “Pasti Mah Bongsu memelihara tuyul,” kata Mak Piah. Pak Buntal pun menggarisbawahi pernyataan istrinya itu. “Bukan memelihara tuyul! Tetapi ia telah mencuri hartaku! Banyak orang menjadi penasaran dan berusaha menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu. Untuk menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu ternyata tidak mudah. Beberapa hari orang dusun yang penasaran telah menyelidiki berhari-hari namun tidak dapat menemukan rahasianya.
“Yang penting sekarang ini, kita tidak dirugikan,” kata Mak Ungkai kepada tetangganya. Bahkan Mak Ungkai dan para tetangganya mengucapkan terima kasih kepada Mah Bongsu, sebab Mah Bongsu selalu memberi bantuan mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Selain mereka, Mah Bongsu juga membantu para anak yatim piatu, orang yang sakit dan orang lain yang memang membutuhkan bantuan. “Mah Bongsu seorang yang dermawati,” sebut mereka.
Karena merasa tersaingi, Mak Piah dan Siti Mayang, anak gadisnya merasa tersaingi. Hampir setiap malam mereka mengintip ke rumah Mah Bongsu. “Wah, ada ular sebesar betis?” gumam Mak Piah. “Dari kulitnya yang terkelupas dan dibakar bisa mendatangkan harta karun?” gumamnya lagi. “Hmm, kalau begitu aku juga akan mencari ular sebesar itu,” ujar Mak Piah.
Mak Piah pun berjalan ke hutan mencari seekor ular. Tak lama, ia pun mendapatkan seekor ular berbisa. “Dari ular berbisa ini pasti akan mendatangkan harta karun lebih banyak daripada yang didapat oleh Mah Bongsu,” pikir Mak Piah. Ular itu lalu di bawa pulang. Malam harinya ular berbisa itu ditidurkan bersama Siti Mayang. “Saya takut! Ular melilit dan menggigitku!” teriak Siti Mayang ketakutan. “Anakku, jangan takut. Bertahanlah, ular itu akan mendatangkan harta karun,” ucap Mak Piah.
Sementara itu, luka ular milik Mah Bongsu sudah sembuh. Mah Bongsu semakin menyayangi ularnya. Saat Mah Bongsu menghidangkan makanan dan minuman untuk ularnya, ia tiba-tiba terkejut. “Jangan terkejut. Malam ini antarkan aku ke sungai, tempat pertemuan kita dulu,” kata ular yang ternyata pandai berbicara seperti manusia. Mah Bongsu mengantar ular itu ke sungai. Sesampainya di sungai, ular mengutarakan isi hatinya. “Mah Bongsu, Aku ingin membalas budi yang setimpal dengan yang telah kau berikan padaku,” ungkap ular itu. “Aku ingin melamarmu dan menjadi istriku,” lanjutnya. Mah Bongsu semakin terkejut, ia tidak bisa menjawab sepatah katapun. Bahkan ia menjadi bingung.
Ular segera menanggalkan kulitnya dan seketika itu juga berubah wujud menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Kulit ular sakti itu pun berubah wujud menjadi sebuah gedung yang megah yang terletak di halaman depan pondok Mah bongsu. Selanjutnya tempat itu diberi nam desa “Tiban” asal dari kata ketiban, yang artinya kejatuhan keberuntungan atau mendapat kebahagiaan.
Akhirnya, Mah Bongsu melangsungkan pernikahan dengan pemuda tampan tersbut. Pesta pun dilangsungkan tiga hari tiga malam. Berbagai macam hiburan ditampilkan. Tamu yang datang tiada henti-hentinya memberikan ucapan selamat.
Dibalik kebahagian Mah Bongsu, keadaan keluarga Mak Piah yang tamak dan loba sedang dirundung duka, karena Siti Mayang, anak gadisnya meninggal dipatok ular berbisa.
Konon, sungai pertemuan Mah Bongsu dengan ular sakti yang berubah wujud menjadi pemuda tampan itu dipercaya sebagai tempat jodoh. Sehingga sungai itu disebut “Sungai Jodoh”.
Moral : Sikap tamak, serakah akan mengakibatkan kerugian pada diri sendiri. Sedang sikap menerima apa adanya, mau menghargai orang lain dan rela berkorban demi sesama yang membutuhkan, akan berbuah kebahagiaan.
Sumber : Elexmedia



Loro Jonggrang
Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteran dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso.
Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. "Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!", ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya. Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. "Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku," pikir Bandung Bondowoso.
Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang. "Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?", Tanya Bandung Bondowoso kepada Loro Jonggrang. Loro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso. "Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya", ujar Loro Jongrang dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan ?". Loro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan. Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.
"Bagaimana, Loro Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya Loro Jonggrang mendapatkan ide. "Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya," Katanya. "Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?". "Bukan itu, tuanku, kata Loro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. "Seribu buah?" teriak Bondowoso. "Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam." Bandung Bondowoso menatap Loro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya. "Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!", kata penasehat. "Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!"
Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. "Pasukan jin, Bantulah aku!" teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. "Apa yang harus kami lakukan Tuan ?", tanya pemimpin jin. "Bantu aku membangun seribu candi," pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah.
Sementara itu, diam-diam Loro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. "Wah, bagaimana ini?", ujar Loro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. "Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Loro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung... dung...dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.
Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. "Wah, matahari akan terbit!" seru jin. "Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari," sambung jin yang lain. Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin.
Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Loro Jonggrang ke tempat candi. "Candi yang kau minta sudah berdiri!". Loro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. "Jumlahnya kurang satu!" seru Loro Jonggrang. "Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan". Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. "Tidak mungkin...", kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Loro Jonggrang. "Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!" katanya sambil mengarahkan jarinya pada Loro Jonggrang. Ajaib! Loro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Loro Jonggrang.


Kancil si pencuri Timun
Siang itu panas sekali. Matahari bersinar garang. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh Kancil. Dia sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pohon yang rindang.
Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. "Tolong! Tolong! " terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari.
"Ada apa, sih?" kata Kancil. Matanya berkejap-kejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk.
Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. "Kebakaran! Kebakaran! " teriak Kambing. " Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan! "
Memang benar. Asap tebal membubung tinggi ke angkasa. Kancil ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit dan berlari mengikuti teman-temannya.
Kancil terus berlari. Wah, cepat juga larinya. Ya, walaupun Kancil bertubuh kecil, tapi dia dapat berlari cepat. Tanpa terasa, Kancil telah berlari jauh, meninggalkan teman-temannya. "Aduh, napasku habis rasanya," Kancil berhenti dengan napas terengah-engah, lalu duduk beristirahat. "Lho, di mana binatang-binatang lainnya?" Walaupun Kancil senang karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. "Wah, aku berada di mana sekarang?
Sepertinya belum pernah ke sini."
Kancil berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya. "Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?'7 Kancil semakin takut dan bingung. "Tuhan, tolonglah aku."
Kancil terus berjalan menjelajahi hutan yang belum pernah dilaluinya. Tanpa terasa, dia tiba di pinggir hutan. Ia melihat sebuah ladang milik Pak Tani.
"Ladang sayur dan buah-buahan? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan," mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali!
"Kebetulan nih, aku haus dan lapar sekali," kata Kancil sambil menelan air liurnya. "Tenggorokanku juga terasa kering. Dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah."
Dengan tanpa dosa, Kancil melahap sayur dan buahbuahan yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Kancil nakal sekali, ya?
"Hmm, sedap sekali," kata Kancil sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. "Andai setiap hari pesta seperti ini, pasti asyik."
Setelah puas, Kancil merebahkan dirinya di bawah sebatang pohon yang rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. "Oahem, aku jadi kepingin tidur lagi," kata Kancil sambil menguap.
Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur, melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah, tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr... krr... krrr...
Ketika bangun pada keesokan harinya, Kancil merasa lapar lagi. "Wah, pesta berlanjut lagi, nih," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada buah timun kesukaanku."
Maka Kancil berjalan-jalan mengitari ladang Pak Tani yang luas itu. "Wow, itu dia yang kucari! " seru Kancil gembira. "Hmm, timunnya kelihatan begitu segar. Besarbesar lagi! Wah, pasti sedap nih."
Kancil langsung makan buah timun sampai kenyang. "Wow, sedap sekali sarapan timun," kata Kancil sambil tersenyum puas.
Hari sudah agak siang. Lalu Kancil kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat.
Pak Tani terkejut sekali ketika melihat ladangnya. "Wah, ladang timunku kok jadi berantakan-begini," kata Pak Tani geram. "Perbuatan siapa, ya? Pasti ada hama baru yang ganas. Atau mungkinkah ada bocah nakal atau binatang lapar yang mencuri timunku?"
Ladang timun itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon timun yang rusak karena terinjak-injak. Dan banyak pula serpihan buah timun yang berserakan di tanah. 7 @ Hm, awas, ya, kalau sampai tertangkap! " omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. "Panen timunku jadi berantakan."
Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali ladangnya yang berantakan. Dari tempat istirahatnya, Kancil terus memperhatikan Pak Tani itu. "Hmm, dia pasti yang bernama Pak Tani," kata Kancil pada dirinya sendiri. "Kumisnya boleh juga. Tebal,' hitam, dan melengkung ke atas. Lucu sekali. Hi... hi... hi....
Sebelumnya Kancil memang belum pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari teman-temannya. "Aduh, Pak Tani kok lama ya," ujar Kancil. Ya, dia telah menunggu lama sekali. Siang itu Kancil ingin makan timun lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah timun yang segar itu.
Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul keranjang berisi timun di bahunya. Dia pulang sambil mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan waktunya habis untuk menata kembali ladangnya yang berantakan.
"Ah, akhirnya tiba juga waktu yang kutunggu-tunggu," Kancil bangkit dan berjalan ke ladang. Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan timun Pak Tani.
Keesokan harinya, Pak Tani geram dan marah-marah melihat ladangnya berantakan lagi. "Benar-benar keterlaluan! " seru Pak Tani sambil mengepalkan tangannya. "Ternyata tanaman lainnya juga rusak dan dicuri."Pak Tani berlutut di tanah untuk mengetahui jejak si pencuri. "Hmm, pencurinya pasti binatang," kata Pak Tani. "Jejak kaki manusia tidak begini bentuknya."
Pemilik ladang yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. "Aku harus membuat perangkap untuk menangkapnya! "Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri orang-orangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket!
Pak Tani kembali lagi ke ladang. Orang-orangan itu dipasangnya di tengah ladang timun. Bentuknya persis seperti manusia yang sedang berjaga-jaga. Pakaiannya yang kedodoran berkibar-kibar tertiup angin. Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak Tani.
"Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi," ucap Kancil, yang melihat dari kejauhan. "Ia datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani meninggalkannya sendirian di tengah ladang?" Lama sekali Kancil menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. "Ah, lebih baik aku ke sana," kata Kancil memutuskan. "Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya timun gratis."
"Maafkan saya, Pak," sesal Kancil di depan orangorangan ladang itu. "Sayalah yang telah mencuri timun Pak Tani. Perut saya lapar sekali. Bapak tidak marah, kan?"
Tentu saj,a orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali Kancil meminta maaf. Tapi orang-orangan itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Kancil.
"Huh, sombong sekali!" seru Kancil marah. "Aku minta maaf kok diam saja. Malah tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?" gerutunya.
Akhirnya Kancil tak tahan lagi. Ditinjunya orangorangan ladang itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya melekat erat di tubuh boneka itu.
" Lepaskan tanganku! " teriak Kancil j engkel. " Kalau tidak, kutendang kau! " Buuuk! Kini kaki si Kancil malah melekat juga di tubuh orang-orangan itu. "Aduh, bagaimana ini?"
Sore harinya, Pak Tani kembali ke ladang. "Nah, ini dia pencurinya! " Pak Tani senang melihat jebakannya berhasil. "Rupanya kau yang telah merusak ladang dan mencuri
timunku." Pak Tani tertawa ketika melepaskan Kancil. "Katanya kancil binatang yang cerdik," ejek Pak Tani. "Tapi kok tertipu oleh orang-orangan ladang. Ha... ha... ha.... "
Kancil pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang ayam. Tapi Kancil terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate.
" Aku harus segera keluar malam ini j uga I " tekad Kancil. Kalau tidak, tamatlah riwayatku. "
Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Kancil memanggil-manggil Anjing, si penjaga rumah. "Ssst... Anjing, kemarilah," bisik Kancil. "Perkenalkan, aku Kancil. Binatang piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di rumah Pak Lurah. Asyik, ya?"
Anjing terkejut mendengarnya. "Apa? Aku tak percaya! Aku yang sudah lama ikut Pak Tani saja tidak pernah diajak pergi. Eh, malah kau yang diajak."
Kancil tersenyum penuh arti. "Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong! "
Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Kancil. Dia meminta agar Kancil membujuk Pak Tani untuk mengajakn-ya pergi ke pesta.
"Oke, aku akan berusaha membujuk Pak Tani," janji Kancil. "Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam. Bagaimana?" Anjing setuju dengan tawaran Kancil. Dia segera membuka gerendel pintu kandang, dan masuk. Dengan sigap, Kancil cepat-cepat keluar dari kandang.
"Terima kasih," kata Kancil sambil menutup kembali gerendel pintu. "Maaf Iho, aku terpaksa berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya." Kancil segera berlari meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari kejadian sebenarnya ketika Kancil sudah menghilang.
Kancil yang cerdik, temyata mudah diperdaya oleh Pak Tani. Itulah sebabnya kita tidak boleh takabur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar