MENTARI DIBALIK DERITA
Tema:
Hidup diantara dua pilihan
Alur atau Plot:
Mundur
Tokoh-Tokoh:
1. Mashur sebagai Jaka (anak pertama)
2. Sukriadi sebagai Juanda (anak kedua
3. Reni sebagai Mirna (anak ketiga)
4. Helda sebagai Juita (anak keempat)
5. Petani (Pak Dolah)
6. Sandi (figuran)
Watak Penokohan:
1. Mashur sebagai Jaka (anak pertama)
Penyabar, giat bekerja, ikhlas, bijaksana dan tegas.
2. Sukriadi sebagai Juanda (anak kedua)
Keras kepala, konsumtif, licik, pemarah, acuh tak acuh dan pendendam.
3. Reni sebagai Mirna (anak ketiga)
Pendiam, selalu mengalah, lemah dan sabar.
4. Helda sebagai Juita (anak keempat)
Pendendam, cepat naik darah dan baik.
Latar:
Batu Belik Desa Pengembur Kecamatan Pujut Lombok Tengah
Gunung Batu Denden
Pantai Kute Lombok Tengah Bagian Selatan
Namaku Jaka dan saya adalah anak dari empat bersaudara, dan merupakan anak tertua diantara tiga saudara saya. Kini aku hidup menjadi orang yang disegani oleh semua orang, dihormati, dipentingkan dan selalu menjadi pusat perhatian, begitu pula dengan dua adik perempuan saya, Mirna dan Juaita namanya. Apa yang kami rasakan sekarang, ternyata tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Rumah indah, mobil mewah dan semua yang saya pakai dalam kehidupan saya ini merupakan rahmat Tuhan yang tadinya saya anggap tidak pernah adil dalam kehidupan ini. Akan tetapi, rahasia dibalik rahasia telah Tuhan tunjukkan kepada saya dan kedua adik perempuan saya yang kusayangi.
Berawal dari kesungguhan, ulet dan kreatif saya membangun kehidupan sukses saya dengan penuh keikhlasan dan ketekunan, tanpa ada rasa lelah dalam diri saya. Sehingga, saya pun bisa merasakan betapa bahagianya menjadi seorang yang dikenal oleh banyak orang, namun ini merupakan awal dari kehidupan yang lebih berat lagi untuk meraih kesuksesan yang sesungguhnya yaitu diakhirat. Karena apa yang saya miliki sekarang semata-mata adalah petunjuk awal dari Tuhan untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan saya, bukan hanya dari konseptual yang menjelma menjadi sebuah ide, tapi aktualisasi dan tindakan yang lebih dibutuhkan orang-orang disekeliling saya.
Terkulas masa lampau…
Mentari itu kembali merekah bak mawar yang terbakar dengan pancaran sang surya, menembus daun-daun basah, embun pagi hari yang mengawali tindakan setiap gerakan tubuh tuk kehidupan setiap orang. Ciut burung dan iringan air yang menetes di dedaunan seakan-akan memberikan harapan yang luar biasa bagi kehidupan saya dan tiga adik saya.
Namun, semua harapan itu pupus diterjang kemiskinan yang melanda kami setelah kedua orang tua kami yang selalu membimbing, menyayangi, mengajarkan kami titian hidup yang sesungguhnya, mengajarkan kami tentang tauhid dan akidah sejati, menghangatkan kami ketika kami kedinginan, merawat kami ketika kami sakit, dan menjelma kami menjadi seorang insan yang penuh perjuangan hidup. Tapi, kini hanya kenangan dan pelajaran yang telah mereka tinggalkan dan wariskan untuk kami.
Pagi itu, Mirna sakit keras dan ia harus segera dibawa ke rumah sakit, saya, Juita dan Juanda bingung dengan keadaan Mirna ini. Hal itu membuat kami tidak tau harus melakukan apa, karena di istana yang hanya berkamarkan satu ruang, berlantaikan tanah liat, dinding terbuat dari pohon bambu dan beratapkan ilalang yang sudah lapuk dimakan hujan dan matahari. Kami merasa tidak sanggup dengan hal yang dirasakan Mirna, ia tanpak sangat lemah dengan penyakitnya ini, namun kami hanya mampu memberikan apa yang kami bisa lakukan untuk kesembuhan adik kami tercinta. Namun, kami tidak punya biaya sedikitpun untuk membawa Mirna ke puskesmas. Jangankan untuk berobat, makan saja kami harus jadi kuli petani kepada orang-orang disekitar.
Hari ini sungguh menjadi pagi yang mengharukan, dengan dikelilingi segumpal kepasrahan, dan Ditunggangi dengan kebimbangan. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menolong adik yang kami cintai ini, sementara aku sebagai seorang yang menjadi penopang hidup bagi ke tiga adik-adik aku pun tak mampu membendung cobaan yang begitu berat ini. Ketika itu, aku pun keluar rumah untuk mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan ini, mudah-mudahan ada orang yang berhati malaikat yang bisa membantu adikku untuk sembuh dari penyakit ini.
Namun, terik matahari yang menyengat tubuhku terus membakar badan yang kurus ini. dipersawahan pak Dolah aku menjadi kuli petani. Tapi, itu tidak aku rasakan. Disawah ini aku berharap mendapatkan upah yang bisa aku pakai untuk membelikan obat untuk adikku Mirna. Akan tetapi, hanya Rp. 10.000,- yang aku dapatkan ketika itu. Sementara dirumah, Juanda sudah tidak tahan lagi mendengar rintihan Mirna yang terus menjerit-jerit kesakitan, dan Juita pun tambah bingun menghadapi kenyataan yang sedang dilihatnya ini.
Mirna : “Kak….aku sakit bangat, tolong aku kak”. Dengan suara tertatihnya ia berusaha tuk mengeluarkan jeritan itu.
Juita : “Sabar ya dik, kak Jaka lagi beli obat untuk kamu!” jawabnya dengan iringan air mata.
Mirna : “kepala aku sakit banget kak”. Sambil meneteskan air matanya
Juita : “sabar aja dulu dik, tungguh kak jaka pulang yah…” ucapnya sambil memegang kepala adiknya.
Juanda : “sakit…sakit., nyusahin aja kamu” dengan penuh sinis dan muka acuh tak acuh, seolah-olah ia tak mau tau tentang penyakit adiknya itu.
Juita : “kakak kok bilang gitu sih ma Mirna!” sahutnya dengan seketika.
Juanda : “kalian semua sama saja, nyusahin. Udah tau kita miskin, sakit lagi” langsung ia angkat dari duduknya dan pergi.
Sementara itu, juita memangku adiknya dipangkuannya. Ia menyadarkan adiknya yang terkulai lemas diatas pangkuannya. Namun tidak banyak hal yang bisa ia perbuat selain memberikan ia kompres, untuk menurunkan panas yang semakin tinggi.
Mirna : “kak Juanda kamana kak?” tanyanya sambil menoleh kesamping kiri Juita.
Juita : “gak tau dik” dengan penuh rasa kesal kepada kakaknya.
Dalam hati Juita tertanam dendam yang sangat mendalam kepada kakaknya Juanda, ia seoalah-olah membenci kakaknya itu dengan sangat mendalam. Ia berharap kakaknya tak akan kembali lagi. Entah kenapa dalam hatinya Juita tertanam hal-hal semacam itu.
Sementara itu, Mirna pun terus merintih kesakitan dan menggigil. Membuat Juita terasa terlunta-lunta dengan ketidak bisaannya untuk membantu adiknya ini. ia berharap supaya Jaka cepat pulang, namun sampai jam 12.00 ia belum juga pulang seperginya dari tadi pagi. Juita terus berusaha merawat adiknya dengan penuh tanggungjawab, namun hanya sebatas apa yang ia mampu saja yang bisa ia perbuat. Dan parahnya lagi, Juita dan Mirna dari tadi pagi tidak pernah makan sampai saat ini.
Jaka : “assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…?” ucapnya.
Juita : “wa’alaikumusslam warohmatullahi wabarokatuh…!” jawabnya, dengan penuh kegirangan, karena mengetahui kakaknya pulang. “alhamdulillah, kakak sudah pulang dik!” ujarnya sambil menghampiri Jaka.
Jaka : “ini kakak bawain obat, tolong ambilkan air minum dik,” dengan penuh ketulusan dan ketegasan. “kak Juanda mana dik, kok kakak gak liat dia, bukannya tadi disini” lanjutnya sambil membukakan obat untuk adiknya.
Juita : “dia tadi pergi setelah marah-marah ma kita kak” jawabnya sambil mengambil air untuk Mirna.
Jaka : “kenapa dia marah?” tegasnya.
Juita : “gak tau kak, Kayaknya dia gak tahan dengan cobaan kita ini!” jelasnya sambil menyuguhkan air itu pada kakaknya.
Jaka : “lantas, sekarang dia kemana?”
Juita : “dia tadi gak bilang mau kemana, soalnya langsung pergi begitu aja” jawabnya dengan tidak ada rasa hirau.
Jaka : “kenapa kamu gak mencegahnya dik, kita harus sabar menghadapi sikap kakakmu itu yang keras kepala!” sambil memberi nasehat pada Juita.
Juita : “biarin aja, dari dulu dia gak mau ikut susah kayak kita” jawabnya singkat.
Malampun berlalu dan sampai saat itu juga Juanda yang telah pergi sejak pagi tadi, tak kunjung pulang membuat Jaka merasa khawatir dan cemas atas kepergian Juanda. Ia berharap adiknya bisa kembali pulang dan bersama-sama kembali dengan kehidupan yang penuh dengan cobaan ini.
Azan isha pun telah didengungkan, Jaka dan Juita segera mengambil air wudu’. Mereka pun sholat secara berjama’ah dan berdoa untuk kesembuhan adiknya dan kepulangan Juanda yang sampai detik ini tak tampak. Entah ia pergi kemana dan tidur dimana, hal-hal inilah yang dipikirkan Jaka.
Hari-hari pun berlalu dan alhamdulillah Mirna sudah nampak biakan. Dalam 4 hari ini Mirna sudah bisa berjalan seperti biasanya, ia tidak lagi sakit. Dan betapa senangnya Jaka dan Juita melihat kesembuhan adiknya itu.
Bulan berganti dengan terang, menjadikan hari ini tampak seperti apa yang dihayalkan oleh setiap burung yang terbang dari pepohonan yang satu ke pepohonan yang lainnya, ayam-ayam syurgapun berkokok dalam pagi itu, dan membangunkan Jaka dan kedua adik perempuannya. Dengan segera mereka pun mengambil air wudu’ untuk melaksanakan sholat subuh secara berjama’ah, dengan hati yang ikhlas mereka pun mengerjakan ibadah dengan tekun setiap waktu, bahkan setelah selesai sholat mereka terus berdoa dan berusaha untuk mendapatkan suatu kebahagiaan yang nantinya akan mendampingi hidupnya yang lebih panjang dikemudian hari.
Seperti biasa, setelah selesai sholat dan mengaji, merekapun mulai beraktifitas dan membagi diri, Mirna pergi mencari sayur dan kayu bakar dihutan, Jaka pergi menjadi kuli petani di sawah-sawah, sedangkan Juita yang merupakan anak yang paling kecil tinggal dirumah dan mengambil air, mencuci dan memasak untuk kedua kakaknya yang pergi bekerja.
Semua itu mereka lakukan dengan ikhlas, sabar dan penuh kepedulian sesama. Tidak seperti Juanda yang sudah 1 tahun ini menghilang tidak jelas kemana. Meskipun selama ini Jaka dan kedua adik perempuannya mengharapkan kedatangan Juanda untuk bisa berkumpul kembali dengan semuanya seperti yang dulu. Namun, tidak dengan Juita yang tidak mengharapkan kembalinya Juanda, ia masih memendam rasa benci terhadap kakaknya itu, dikarenakan oleh sifat kakaknya yang keras kepala dan tidak pernah mau tau tentang keadaan keluarganya. Hal inilah yang membuat Juita tidak pernah mau memaafkan kakaknya tersebut.
Namun, sebagai kakak, Jaka selalu memberikan nasehat, saran dan ide-ide untuk kedua adik perempuannya supaya menjadi seseorang yang luar biasa, tidak seperti anggapan orang-orang yang menganggap mereka tidak berarti dalam kehidupan ini. namun, bagi Jaka kehidupan semacam ini merupakan sesuatu hal yang disyukuri, meskipun banyak sekali hal-hal yang tidak ia dapatkan seperti orang-orang yang menginginkan kebahagiaan, baik dari orang tua, pendidikan di sekolah dan lain sebagainya.
Lima tahun telah berlalu…
Rumah yang kumuh, beratapkan ilalang yang lapuk dan sudah bubuk dimakan oleh matahari dan hujan, kini sedikit berubah menjadi rumah yang beratapkan asbes. Karena dengan uang yang didapatkan dari hasil kuli selama lima tahun ia terus kumpulkan bersama dengan dua adik perempuannya.
Ia sekarang sudah berumur dua puluh tahun, sementara Mirna sudah berumur tujuh belas tahun dan Juita sudah berumur lima belas tahun. Meskipun begitu, bangku sekolah yang menjadi idaman dan harapan Juita dan Mirna tidak pernah ia dapatkan, tapi ia selalu diajarkan membaca dan menulis serta mengaji oleh Jaka yang pernah sekolah sampai ditingkat SMP kelas dua. Namun, karena musibah yang telah menimpa kedua orang tuanya itu, dan orang tuanya meninggal dunia. Dari sanalah Jaka tidak melanjutkan kembali sekolahnya. Ia adalah seorang anak yang pandai dikelasnya, akan tetapi ia tidak pernah sedikitpun mendapatkan perhatian oleh pemerintah.
Suatu ketika, Jaka yang dulunya menjadi seorang kuli petani dan sekarang sudah menjadi orang yang dipercayakan untuk menjadi seles dalam suatu perusahaan. Jaka dengan tidak sengaja bertemu dengan Juanda yang sudah sukses menjejaki karir diumur sembilan belas tahunnya. Ia diangkat oleh seseorang yang lumayan kaya, bahkan Juanda pernah disekolahkan dan ia menjadi orang yang sukses. Akan tetapi, sifat keangkuhannya ia tidak sedikitpun memperdulikan tentang kakaknya itu. Malah ia acuh tak acuh terhadap saudaranya.
Mereka sempat berbicara beberapa menit, akan tetapi dengan kesibukan Juanda, ia pun langsung pergi. Tanpa ada pertanyaan-pertanyaan menyangkut kabar kedua adik perempuannya.
***
Sungguh jelita, anggun dan mempesona dengan kecantikan dan uluran jilbab yang menempel dikepala Mirna dan Juita. Mereka tumbuh menjadi seorang wanita yang menarik perhatian setiap laki-laki yang melihatnya, bahkan mata laki-laki akan terbelalak melihat kecantikan dan keanggunan mereka. Dan kerap kali mereka didatangi oleh laki-laki yang ingin menjadikannya sebagai pacar, namun mereka selalu menolak dengan penuh kesopanan. Mereka merasa belum saatnya untuk berfikir tentang hal itu, sebelum cita-cita dan impian mereka bertiga tercapai yaitu “menjadi orang yang sukses dan membantu orang-orang yang membutuhkan”. Mereka tidak akan pernah melakukan hubungan yang namanya pacaran, apalagi menikah. Mereka juga menghormati kakaknya yaitu Jaka yang selalu memberikan pandangan-pandangan hidup, mereka tidak ingin mengecewakan kakaknya yang menjadi pengganti ibu dan bapaknya.
Saat itu, sudah tampil menjadi seorang marketing, karena kepercayaan, kejujurannya ia diangkat menjadi seorang marketing dalam suatu Perusahaan, dimana ia dulu menjadi seorang seles yang memiliki gaji yang tidak seberapa untuk menghidupi kedua adiknya dan memperbaiki rumahnya yang kumuh.
hingga, malam dan hari-harinya mereka selalu berkumpul ketika ada waktu, mereka makan bersama dan saling bercanda, tanpa ada rasa sedih yang menggumpal dalam hati mereka, tanpa pernah ada derita yang menemani hidup mereka selama sepuluh tahun silam. Namun, mereka tidak pernah melupakan hal-hal itu…
Mirna : “kak, aku kangen sama kak Juanda!” ucapnya sepontan!
Juita : “jangan sebut-sebut nama dia lagi, aku gak suka!” dengan judesnya ia menjawab.
Mirna : “tapi kak…” belum selesai ia bicara
Juita : “aku gak suka…pokoknya!” dan langsung ia keluar rumah, dan menangis.
Mirna pun merasa bersalah terhadap apa yang telah diucapkannya tadi. Dan seperti biasa, Mirna selalu melaporkan apa pun kejadian yang ia alami kepada Jaka. Sang kakak yang menjadi pengobat hati dan penemu solusi. Jaka selalu mengerti dengan keadaan kedua adiknya yang kadang berbeda sifat dan karakternya.
Jaka : “kenapa lagi?” seolah-olah ia sudah tau permasalahan adiknya.
Mirna : “Juita marah lagi kak” dengan manja ia luahkan kepada Jaka.
Jaka : “kalian ini udah besar, masih aja tetap bertengkar!” jawabnya dengan tenang. Dan langsung ia bangkit dari duduknya, seoalah-olah dia tau apa yang akan dilakukan untuk mereda kesalah pahaman diantara keduanya.
Didepan pintu itu, Juita masih menangis tersedu-sedu….
Jaka : “kenapa nangis mata airku, kasian kan air matanya menetes begini” rayunya dengan penuh kemanjaan.
Juita pun tetap terdiam, tidak mengucapkan kata sedikitpun…
Selang beberapa waktu kemudian,…datanglah seorang laki-laki yang mengendarai sepeda motor,,..
Sandi : “assalamu’alaikum” ucapnya.
Jaka & Juita : “wa’alaikumussalam” jawabnya bersamaan, dan Jaka menyalaminya.
Juita : “kamu kok tau rumah aku disini?” tanyanya dengan sedikit malu pada kakaknya yaitu Jaka.
Jaka : “masuk dulu, baru diajak ngomong” dengan bijaksananya ia melakukan itu.
Kemudian mereka pun masuk dan berbincang-bincang, laki-laki itu adalah temannya Juita, ia suka sama juita, tapi sayangnya ia tidak punya rasa sedikitpun pada Sandi.
Jaka : “Mirna…tolong buatkan kopi buat Sandi”
Saking terkejut dengan panggilan kakaknya, Mirna menjatuhkan Piring didapur.
***
Aku pun diajak bermain bersama kedua adikku yang selama ini ingin ku lihat keceriaan ini. dan dipantai Kute ini, adalah kehidupan awalku untuk meniti karir yang terus akan aku kejar…..The And…
Penulis Naskah : Eizi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar